
Dalam sebuah paper yang
berjudul “Multimedia Forensics is Not Computer Forensics” yang dibuat
oleh Rainer Bohme, Felix C. Freiling, Thomas Gloe dan Matthias Kirchner. Diawal
papernya, penulis membahas tentang sebuah ontology yang mereka buat
tentang forensik secara umum.
Dilihat dari sudut
pandang forensic digital, Forensik akan terbagi menjadi dua. Forensik analog
dan forensik digital. Forensik analog berperan untuk menemukan jejak di bukti
fisik sedangkan forensik digital terbatas hanya untuk melakukan eksplorasi
terhadap bukti digital. Kebanyakan orang sudah sangat paham dengan bukti fisik.
Karena bukti fisik tersebut berwujud dan dapat dilihat secara kasat mata.
Bukti digital berbeda
dengan bukti fisik karena bukti digital tidak berwujud dan lebih abstrak karena
berupa bit string hasil ekstrak dari memori dan perangkat penyimpanan komputer.
Sehingga komputer forensik dan multimedia forensik saling berbagi
ketergantungan terhadap bukti digital yang menjadi kesatuan dalam forensik
digital. Pembagian ontology tersebut seperti gambar dibawah ini.
Forensik Analog
Dalam forensik analog ada
prinsip yang terkenal yaitu prinsip pertukaran yang menyatakan bahwa setiap dua
entitas berinteraksi maka masing-masing entitas akan meninggalkan jejak
pertukaran. Seperti misalnya sidik jari, jejak kaki, rambut, goresan, atau
luka.
Selain itu Kirk juga
menyatakan sebuah prinsip dalam forensik analog ini yaitu “Barang bukti
fisik tidak bisa salah, tidak bisa bersumpah palsu, tidak bisa hilang. Hanya
kegagalan manusia untuk bisa menemukan, mempelajari, dan memahaminya.”
Bukti fisik terbukti
sangat handal dalam fakta pembuktian. Kejelian dan ketelitian penyidik sangat
dihandalkan karena pelaku bisa saja melakukan rekayasa terhadap jejaknya dan
menyebabkan tuduhan palsu. Penyelidikan yang cermat dari bukti fisik cenderung
akan memberikan fakta pembuktian yang sangat handal dalam persidangan.
Forensik Komputer
Setiap pelaku akan
membuat kesalahan dan akan meninggalkan pola aktivitas kriminal di barang
bukti. Namun sifat bukti digital ini memungkinkan untuk pelaku menutupi
jejaknya dengan sempurna. Tidak seperti forensik analog yang memiliki
keterbatasan praktis, dalam forensik digital, pelaku tahu semua tentang
kelemahan penyidik dan mereka dapat beradaptasi dan bisa menyembunyikan
fakta.
Selain itu ternyata di
beberapa kantor penyelidik forensik, biaya untuk melakukan pembuktian forensik
digital cenderung diberikan lebih sedikit dari pada forensik analog. Sehingga
seharusnya kantor penyelidikan yang didanai Negara harus membuat keputusan
tentang alokasi sumber daya untuk mengeksplorasi bukti fisik dan bukti digital.
Situasi yang berbeda
muncul jika komputer forensik dipahami dalam arti luas yang mencakup bukti
fisik dan bukti digital (dijelaskan dalam paper ini hanya mencakup bukti
digital). Bukti fisik tambahan meskipun mahal dan rumit untuk mendapatkannya,
bisa sangat indikatif terhadap sisi informasi. Bukti digital yang disimpan
dalam perangkat lain (misalnya komputer yang terkoneksi melalui jaringan) dapat
memberikan informasi tambahan jika integritasnya aman. Intinya jangan
mengabaikan bukti sekecil apapun karena bisa menjadi petunjuk.
Forensik Multimedia
Salah satu bukti digital yang sering ditemukan dan dianalisis dari media penyimpanan hasil sitaan yaitu data multimedia digital. Pada saat sekarang ini, data multimedia digital sangat mudah dimanipulasi. Dengan penggunaan software editing yang canggih memungkinkan pengguna yang berpengalaman untuk melakukan mengubah media digital hanya dengan usaha yang kecil. Efeknya, penggunaan data multimedia dalam pengadilan akan mempertanyakan keaslian media yang digunakan tersebut.
Dua cabang dasar dalam
forensik multimedia yaitu yang pertama untuk mendeteksi adanya scenario
manipulasi dan mengidentifikasi skenario yang terjadi. Forensik multimedia yang
dibahas dalam paper ini bukan tentang menganalisis semantic dari
objek media digital. Teknik dari forensik multimedia hanya bertujuan untuk
menguji keaslian dan sumber data digital. Data multimedia hanya akan dapat
digunakan jika data tersebut terpercaya dan otentik.
Dalam forensik multimedia,
biasanya penyidik memanfaatkan dua sumber utama jejak digital :
- Karakteristik perangkat yang diakuisisi dapat di cek untuk dapat diketahui identifikasi scenario dan kecocokkannya (mendeteksi scenario manipulasi.
- Artefak hasil akusisi untuk dapat mendeteksi adanya scenario manipulasi
Sumber pertama digunakan
untuk mengetahui proses capturing data multimedia. Setiap perangkat memiliki
karakteristik yang khusus untuk membedakan jenis, model, atau spesifikasi
perangkat. Sehingga hasil capturing data multimedia dapat dicocokkan
dengan karakterisitik khusus perangkatnya. Salah satu karakteristik perangkat
yang mungkin dipelajari adalah CCD/CMOS Sensor Noise. Hal ini sama dengan
pengasumsian di forensik analog dimana sebuah proyektil peluru dapat dianalisis
dan dicocokkan dengan senjatanya.
Hubungan dengan Komputer
Forensik
Meskipun kedua forensik
komputer dan forensik multimedia sama-sama mengeksplorasi bukti digital. Dalam
forensik multimedia ini, diasumsikan bahwa hasil yang dicapture dari perangkat
multimedia merupakan representasi digital dari suatu realitas yang dapat
dikenali. Adanya sensor yang mengubah fenomena alam ke proyeksi diskrit
menyiratkan bahwa forensik multimedia harus dilihat sebagai ilmu empiris.
Seorang pelaku kejahatan
tidak akan mungkin memanipulasi data multimedia seperti foto tanpa meninggalkan
jejak. Tidak seperti komputer forensik, bukti digital forensik multimedia
terkait dengan dunia luar dan tidak bisa diproduksi oleh mesin (seperti foto, memerlukan
objek dunia luar, begitupun suara, dan video).
Ada beberapa cara untuk
mendeteksi keaslian sebuah file multimedia. Diantaranya PRNU-based camera
identification yang menggunakan distribusi noise sensors dan
menggabungkannya dengan Gaussian distribution. Selain itu ada juga model
untuk mendeteksi tindakan copy-paste yang menggunakan analisis pixel untuk
melakukan pendeteksiannya.
Kualitas pembuktian fakta
yang dihasilkan oleh forensik multimedia tergantung pada kualitas modelnya.
Semakin baik modelnya maka semakin jelas dan terprediksi realitasnya.
Counter-Forensics
Dalam forensik analog
atau forensik klasik, menghilangkan jejak kejahatan sangatlah sulit, karena
tindakan penghilangan jejak itu sendiri juga akan menimbulkan jejak baru. Sebagai
contoh, menghilangkan bekas sidik jari dengan cairan pembersih akan menyisakan
jejak lain yang tanpa disadari si pelaku. Jadi hanya kegagalan manusia untuk
mencari fakta pembuktian dalam kasus forensik analog.
Hal ini berbeda dengan
forensik komputer. Dimana komputer memiliki keterbatasan dan memungkinkan si
pelaku berpandangan jauh untuk menghilangkan jejak. Sebagai contoh pelaku
kejahatan melakukan sebuah kejahatan dan semua bukti tertinggal di komputernya,
akan tetapi jika si pelaku ternyata sudah menghapus, mengisi, menghapus,
mengisi, hingga berkali-kali maka jejak kejahatannya juga akan terhapus dan
hanya tinggal sedikit kemungkinan untuk dapat mengembalikan jejaknya. Atau si
pelaku melakukan kejahatan dengan menggunakan sistem operasi live cd dimana
data tidak tersimpan di harddisk dan hanya tersimpan di RAM, begitu komputer
mati, maka semua jejak juga hilang.
Kesimpulan
Jika ada yang menanyakan “Apakah
multimedia forensic sama dengan computer forensic?” maka jawabannya adalah multimedia forensic tidak sama dengan
computer forensic. Mengapa ? forensik multimedia bukanlah forensik komputer
dikarenakan teknik analisis dan tujuan pencarian barang bukti yang
berbeda. Pada forensik komputer, tujuan akhirnya yaitu menemukan barang
bukti digital dalam perangkat elektronik. Namun pada forensik multimedia
tujuannya yaitu untuk mendeteksi adanya manipulasi dan mengidentifikasi
scenario yang terjadi. Mengidentifikasi scenario yang terjadi disini maksudnya
seperti contoh diatas, ketika ada sebuah foto digital maka akan diforensik
multimedia untuk mencari foto tersebut dibuat dengan perangkat apa.
Namun multimedia forensic
sangat berkaitan dengan computer forensic. Karena Forensik multimedia tidak
akan bisa dikerjakan tanpa bantuan forensik komputer. Karena bahan untuk
melakukan forensik multimedia tergantung dari bagaimana forensik komputer mampu
menemukan barang bukti digitalnya.
Dosen Suryayusra, M.Kom

Tidak ada komentar:
Posting Komentar