Di dalam dunia forensik timeline sangat
berperan penting dalam mendukung proses pembuktian dan analisa kasus. Hal ini
disampaikan oleh Khan, Chatwin, & Young, 2007 yang menyatakan bahwa timeline
berfungsi sebagai cara untuk mengidentifikasi bukti kejahatan digital. Dalam
analisis forensic, Timeline digunakan untuk merekonstruksi urutan
peristiwa dalam suatu kejadian. Tanpa kronologi kejadian yang akurat, penegak
hukum akan kesulitan memetakan tindakan pelaku kejahatan dalam melakukan
kejahatannya. Namun, karena jumlah peristiwa yang terjadi biasanya sangat
besar, maka timeline yang dihasilkan dapat cukup rumit untuk
dilakukan analisis. Hal ini membuat banyak interpretasi timeline karena
pengambilan keputusan yang sangat sulit. Selain itu, rekonstruksi peristiwa
adalah proses yang kompleks dimana setiap kesimpulan harus didukung oleh
bukti-bukti yang dikumpulkan ketat sehingga memberikan kredibilitas penuh.
Sebuah masalah yang
sangat signifikan dalam analisis timeline digital adalah kredibilitas.
Untuk membuat sebuah timeline dinyatakan keabsahannya sangat
tergantung pada time stamps. Time stamps sendiri merupakan
catatan waktu dalam sebuah file ataupun sistem terhadap event atau
perubahan terakhir dari file ataupun sistem tersebut. Namun tidak menutup
kemungkinan time stamps itu dapat terjadi error. Hal ini disebabkan
selain timestamp rawan rusak, juga timestamp mudah
dilakukan modifikasi.. Errornya time stamp dapat disebabkan oleh faktor internal dan external.
Faktor internal diantaranya seperti errornya setingan waktu yang
ada pada perangkat (seperti jika batrai CMOS komputer habis, maka setingan jam
tidak akan akurat) dan bisa juga perbedaan GMT dari waktu tersebut (padahal
seharusnya menggunakan GMT +7, tapi setingan malah menggunakan GMT +5). Faktor external penyebab errornya time
stamp bisa karena diubah oleh pelaku kejahatan. Sehingga untuk membuat
catatan waktu yang valid membutuhkan ketekunan dan kreativitas investigator.
Membuat timeline dalam
setiap kasus membutuhkan pendekatan yang berbeda. Hal ini mengakibatkan
sulitnya membuat sebuah metodologi agar timeline bisa diotomatisasi.
Sehingga banyak yang masih dilakukan secara manual dengan mengurutkan kejadian
satu persatu secara manual berdasarkan timestamps data yang ditemukan dalam
barang bukti digital. Mengkombinasikan data waktu kejadian antara time
stamps data digital dengan waktu kejadian secara langsung (mengurutkan
kejadian secara manual seperti berdasarkan waktu laporan kejadian, keterangan
saksi, pengakuan tersangka) juga merupakan sebuah langkah untuk membuat
valid timeline. Dengan beragamnya jenis file dan jenis standarisasi
filesystem pada setiap sistem operasi membuat ebih sulitnya mendapatkan timestamp yang
tepat. Dan secara tidak langsung akan mempersulit proses pembuatan timeline.
Contoh pada Windows menggunakan file
system sendiri dengan NTFS nya, linux menggunakan ext4,
dan Mac menggunakan HFS nya.Untuk ketiga file system ini
karena populer maka sudah hampir semua software forensik dapat
membaca timestamps dari file-file yang ada didalamnya. Namun untuk file system
yang kurang populer seperti ZFS (Zettabyte File System) mempunyai
masalah tersendiri. Ini karena ZFS mempunyai struktur yang komplek
untuk penyimpanan data dan metadata nya. Karena ZFS sendiri
banyak digunakan untuk storage kelas Enterprise. Semakin beragam
standarisasi maka semakin rumit pula dalam menentukan keabsahan timestamp dan
penyusunan timeline. Walaupun sekarang banyak tools forensik yang
sudah dapat membaca dan menerjemahkan beberapa filesystem tersebut.
Salah satu peneliti dari
Australia, (Leigh & Shi, 2014) yang berhasil menemukan cara untuk membuat
analisis timeline di ZFS menggunakan metadata
ZFS dan menggunakan struktur internal ZFS sebagai sumber
analisis timeline nya. Dalam eksperimennya mereka menggunakan sistem Free BSD
9.1 dan ZFS Pool version 28. Kemudian mereka membuat 9 ZFS Pool untuk
dilakukan ujicoba mengekstraksi metadata file-file di dalam ZFS
Pool tersebut untuk mendapatkan time stamps nya baru kemudian
dilakukan analisis timeline nya. Namun diakhir penelitiannya, tetap
saja masalah yang dulu tetap ada. Yaitu apabila jam yang ada dalam sistem
dirubah atau seseorang melakukan manipulasi waktu, maka termanipulasi
jugalah time stamps file-file yang ada dalam sistem tersebut.
Timeline Analysis pada forensik web
Jika pada sebelumnya kita
berbicara tentang timeline dalam sebuah file system dalam
komputer yang mempunyai masalah dengan jika dimanipulasinya jam dalam sistem
komputer tersebut, hal ini sedikit berbeda dengan menganalisis timeline dalam web
server. (Chandrawanshi & Gupta, 2013) dalam penelitiannya memaparkan
bahwa dalam sebuah sistem web server, jika terjadi serangan, maka untuk
menganalisisnya yang paling terbaik yaitu dengan menggunakan log dari web
server itu. Web log files digunakan untuk menyelidiki informasi
mengenai siapa saja yang pernah mengakses web server itu dan apa saja
yang dilakukan.
Bahkan (Chandrawanshi
& Gupta, 2013) berhasil membuat tool untuk membuat timeline secara
otomatis dengan menggunakan sumber dari web log files tersebut. Dari
sumber web log files yang didapatkan, mereka melakukan analisis
dengan metode yang mereka sebut “pre-prosess dan teknik pathanalysis”
untuk mendapatkan informasi mengenai URL yang mengakses server tersebut.
Setelah dilakukan analisis, berikutnya mereka memvisualisasikan hasil analisis
nya sehingga timeline nya nampak dengan jelas. Adapun
metodologi pre-proses dan path analysis yang mereka gunakan
tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.
Dalam pendekatan keilmuan forensik, gambar ini menjelaskan tahapan-tahapan atau langkah yang dapat digunakan untuk melakukan investigasi pada forensik web, diantaranya adalah
- Langkah pertama : Melakukan analisa waktu dan hari berdasarkan terjadinya peristiwa
- Langkah kedua : Mengintegrasikan file log sesuai kebutuhan
- Langkah ketiga : Mengidentifikasi parameter untuk analisis, yang membantu untuk mengumpulkan bukti-bukti dari aktivitas berbahaya seperti (IP ADDRESS, DATE, MAC ADDRESS dll)
- Langkah empat : Dalam file log terintegrasi, mencari kegiatan untuk sering pengunjung dengan alamat ip mereka, akses file, byte ditransfer dll
- Langkah lima: Konfirmasi alamat IP dari pengguna berbahaya, dengan menganalisis perilaku.
- Langkah enam : Merekonstruksi hipotesis acara waktu dengan menganalisis bukti-bukti dan entri log file.
- Langkah tujuh : Menghasilkan laporan sebagai bukti.
- Langkah delapan : Semua laporan ke pengadilan, yang mendukung penuntutan untuk meyakinkan pengadilan terhadap terdakwa.
Dari pendekatan tersebut
dapat dibangun secara otomatis timeline berdasarkan log file pada web
server. Kemudian digambarkan jika konsistensi waktu yang menggambarkan
aktifitas lampau dalam bentuk timeline dapat menggambarkan secara
sistematik kejadian secara benar. Akan tetapi yang terjadi di pengadilan
biasanya dibahas proses kejadian secara detail dan menyeluruh. Sehingga
dengan timeline kita dapat mendukung alat bukti dan membuktikan alibi
seseorang. Walaupun rekonstruksi yang dibangun melalui timeline tidak
mampu membuktikan hipotesis secara pasti dan mutlak tanpa memperhatikan
hipotesis lainnya, sehingga harus ada kombinasi antara rekonstruksi, pengujian
sehingga dapat memastikan kredibilitas penyelidikan.
Kesimpulan
Melakukan analisis timeline sangat penting dilakukan agar dapat merekonstruksi kejadian yang telah berlangsung. Tetapi pada intinya, masalah terbesar yang dihadapi dalam melakukan analisis timeline yaitu adanya manipulasi time stamps terhadap file-file ataupun sistem komputer. Ketika tools atau software dapat membaca timestamps dan mampu membuat timeline secara otomatis, dan jika ternyata time stamps yang ada itu telah dimanipulasi sebelumnya oleh pelaku kejahatan, maka rekonstruksi kejadian bisa berantakan. Karena yang sering terjadi adalah kerusakan timestamp sehingga terdapat missing link saat disusun dalam sebuah timeline. Sehingga untuk melakukan menyusun timeline agar dapat merekonstruksi kejadian, investigator harus mampu melakukan analisis timeline secara manual dengan mengkombinasikan waktu kejadian berdasarkan keterangan korban dan saksi.Melakukan rekonstruksi peristiwa atau kejadian yang dibangun berdasarkan timeline juga tidak seuanya bisa dipastikan kredibilitasnya, kecuali dikombinasikan dengan pengujian bukti.
Dosen : Suryayusra, M.Kom







