Jumat, 17 Juni 2022

Definisi Komputer Forensik

Digital Forensik atau bisa disebut dengan Ilmu Forensik Digital, adalah salah satu cabang ilmu forensik, yang memfokuskan pada penyelidikan dan penemuan konten perangkat digital, yang seringkali dikaitkan dengan kejahatan komputer.

Digital forensic bertujuan untuk membantu memulihkan, menganalisa, dan mempresentasikan barang bukti berbasis digital atau elektronik yang sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah di pengadilan.

Menurut UU ITE, Alat Bukti Elektronik ialah Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memenuhi persyaratan formil dan persyaratan materil. Pada Pasal 5 ayat (1) UU ITE mengatur bahwa Informasi Eletkronik dan/atau Dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.

Dalam digital forensic barang bukti terdiri dari dua jenis yaitu barang bukti elektronik dan barang bukti digital. Barang bukti elektronik bersifat fisik dan dapat dikenali secara visual. Sedangkan Barang bukti digital bersifat digital yang kemudian akan diekstrak atau di-recover dari barang bukti elektornik atau dikenal dengan istulah dokumen elektronik.

Contoh barang bukti elektronik seperti komputer PC, laptop/notebook, netbook, tablet, telepon genggam, flashdisk, floppydisk, harddisk, CD/DVD, router, switch, hub, kamera video, CCTV, kamera digital, perekam digital, music/video player, dan semacamnya. Dan sedangkan untuk jenis barang bukti digital seperti Audio file, Video file, Image file, Email, User ID dan password, Short Message Service (SMS), Multimedia Message Service (MMS), Call Logs dan semacamnya.

Dalam pengelolaan barang bukti digital, proses akuisisi dan imaging adalah hal penting dalam tahapan melakukan proses analisa forensik. Akuisisi sendiri merupakan proses pengelolaan barang bukti digital yang terkait dengan media penyimpanan seperti harddisk, Flash Disk, CD dan lain lain. Proses ini dilakukan untuk mengekstraksi dan menduplikasi barang bukti yang ditemukan guna sebagai objek analisis agar barang bukti yang ditemukan tidak rusak serta integritas barang bukti tetap terjaga.  Pada tahap akuisisi terdapat beberapa aplikasi/tools yang dapat digunakan seperti FTK imager, Bitcorator dan lain sebaginya.

Untuk mendukung proses identifikasi alat bukti dalam waktu yang relatif cepat dan sekaligus mengungkapkan alasan dan motivitasi tindakan tersebut maka perlu melakukan investigasi, banyak penelitian yang membahas mengenai model proses investigasi digital forensik. Model yang terbaru diusulkan oleh Omrani Takwa dkk, yang berjudul A New Digital Investigation Frameworks Comparison Method. Model ini diclaim dapat menghemat waktu, reusability, dan prosesnya terjaga keamanannya.

Tahapan dari model ini antara lain:

1.      Pre-processing: tahap ini dilakukan sebagai persiapan dan pengecekan alat software dan hardware yang akan digunakan.

2.      Collection : Terdiri dari 3 tahap yaitu

Localization: merupakan tahap untuk mengidentifikasi data yang relevan yang kemudian dilakukan lokalisasi.

Identification: merupakan tahap untuk mengidentifikasi informasi yang tersembunyi.

Scheduling: merupakan tahap untuk mengurutkan data berdasarkan prioritas dan kehandalan data.

3.      Classification: tahap ini data akan dikelompokkan berdasarkan hasil dari proses investigasi sebelumnya dan dibandingkan dengan hasil dari proses investigasi saat ini. Tahap ini diselesaikan menggunakan dengan cara statistik dan teknik fusi data, yang tujuannya adalah untuk memahami kasus kejadian dan mempercepat pemilihan solusi investigasi yang andal.

4.      Analysis: tahap ini adalah melakukan analisa terhadap data yang sudah dikumpulkan untuk mendapatkan estimasi, kemungkinan, dan hipotesis dari data yang akan berpotensi menjadi barang bukti.

5.      Examination: tahap ini adalah tahap pengujian keabsahan data, keutuhan data dan keterkaitan data dengan tindak kriminal suatu kasus.

6.      Presentation: tahap ini adalah tahap presentasi bukti digital kepada pihak yang berwenang dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan dipahami oleh orang-orang di persidangan.

7.      Rapport:  tahap ini merupakan tahapan untuk mencari hubungan dari semua hasil investigasi. Hasil dari tahap ini seperti penetapan barang bukti, penjelasan, kebijakan baru dan prosedur investigasi, penutupan kegiatan investigasi.

8.      Preservation: tahap ini, barang bukti baik yang berupa fisik maupun digital akan dijaga kamanan, dan keutuhannya pada setiap tahapan proses investigasi, sehingga validitas dan integritas barang bukti tetap terjaga.

9.      Owner property: tahap akhir setelah proses investigasi selesai, semua barang bukti yang disita akan dikembalikan secara utuh kepada pemiliknya.

Walaupun tidak berkaitan dengan kejahatan, Pada beberapa kasus kejahatan tertentu, computer dapat dijadikan untuk menyimpan data-data kejahatan. Seperti menyimpan data-data penjualan senjata ilegal, obat-obat terlarang dan semacamnya. Dalam kasus seperti ini,kejahatan tersebut dikenal dengan istulah “cybercrime” dimana  komputer tidak terlibat secara signifikan dalam pelaksanaan kejahatan, namun lebih merupakan sebuah bukti untuk membuktikan adanya sebuah kejahatan. Banyak jenis kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan kejahatan di internet yang menjadikan computer sebagai korban. Menurut eko indrajit secara prinsip terdapat 4 (empat) jenis tindakan, yaitu :

1.      Interception yaitu tindakan menyadap transmisi / komunikasi yang terjadi antara satu pihak dengan pihak yang lain.  Contoh dari jenis ini adalah – Wiretapping dan Sniffing

2.      Interruption yaitu tindakan yang mengakibatkan terjadinya pemutusan komunikasi antara dua buah pihak yang seharusnya berinteraksi. Contohnya adalah DOS (Denial of Services) atau DDOS (Distributed Denial of Services) yakni aktifitas terhadap sebuah komputer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber (resource) yang dimiliki oleh komputer tersebut sampai komputer tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan benar.

3.      Modification yaitu tindakan melakukan perubahan terhadap data atau informasi atau konten yang mengalir dalam sebuah infrastruktur teknologi informasi. Contoh aktifitas ini adalah MITM Attack atau “man in the middle attack” dimana seseorang menempatkan diri di tengah pembicaraan dan menyamar sebagai orang lain kemudian mengubah isi informasi dari komunikasi yang ada.

4.       Fabrication yaitu tindakan mengelabui seolah‐olah terjadi suatu permintaan interaksi dari seseorang seperti yang dewasa. Contohnya adalah phising,

Dalam dunia digital forensic sistem operasi akan memiliki karakteristik file system yang tersendiri, karena itu untuk mendalami dunia digital forensik maka salah satu acuan awalnya adalah mengidentifikasi terlebih dahulu sistem operasi yang digunakan. Berdasarkan sistem operasi tersebut maka kemudian kita mengenali bagaimana sistem file yang berlaku.

File Signature adalah sebuah data yang berfungsi sebagai indentifikas atau memverifikasi suatu isi file. Dalam hal ini File Signature membantu dalam upaya mendeteksi manipulasi data. File-file sistem komputer diidentifikasi oleh 2 atribut: file extensions dan file signature. Suatu file extension adalah akhiran berupa nama pada file komputer yang teraplikasikan yang menunjukkan format dari file tersebut. sedangkan suatu file signature (dapat juga dikatan sebagai magic number) adalah satu set dari beberapa karakter yang tersimpan pada bagian awal dari file. Setiap jenis file / file type dapat dikenal dengan mudah melalui extension.

Bagian yang sangat penting dalam analisis forensic adalah Timeline.  analisis timeline dalam forensik digital merupakan urutan waktu dalam sebuah kejadian. Timeline digunakan agar dapat merekonstruksi urutan peristiwa dalam kejadian. Tanpa kronologi kejadian yang akurat, penegak hukum akan kesulitan memetakan tindakan pelaku kejahatan dalam melakukan kejahatannya.

Di Indonesia terdapat banyak sekali kasus yang menggunakan ilmu forensic, salah satu kasus yang pernah Hype adalah Kasus pembunuhan menggunakan “kopi sianida” yang dilakukan oleh jessica kumala wongso. Para ahli forensik menggunakan cctv digital untuk menguak kasus tersebut. Salah satu Ahli Digital Forensik melalui Rekaman CCTV Muhammad Nur Al-Azhar Msc . adalah Ahli yang melakukan Forensik Imagine terhadap flashdisk yang ber isi Rekaman CCTV di TKP. Merekam jelas tindakan yang dilakukan oleh Jessica.


https://www.binadarma.ac.id

Dosen : Suryayusra, M.Kom

Matakuliah : Komputer Forensik

 


Kamis, 09 Juni 2022

Studi Literatur Ilmu Forensik Komputer

LATAR BELAKANG

Keberadaan ilmu komputer forensik ini sangat dibutuhkan saat sekarang apalagi dimasa mendatang, karena banyaknya kejahatan-kejahatan berbasis komputer/digital yang tidak dapat dibuktikan secara nyata, sehingga terkadang tidak diakui sebagai alat bukti di pengadilan untuk kasus-kasus seperti ini. Maka tidak heran di institusi seperti kepolisian memiliki departemen khusus untuk komputer forensik ini.

Kejahatan cyber memiliki barang bukti yang bersifat elektronis/digital dan membutuhkan metoda pengelolaan yang khusus sehingga dapat memenuhi persyaratan forensik untuk digunakan sebagai barang bukti. Faktanya semakin maju ilmu pengetahuan ditambah dengan akhlak manusia yang semakin merosot dan jauh dari nilai-nilai Agama, kiranya perlu adanya monitoring dari setiap aktivitas manusia yang menyangkut kepentingan masyarakat, apalagi dengan adanya akses internet yang mudah, bahkan dari telepon selular, orang dapat mengakses apa saja yang ada di dunia ini.

Ketika suatu kejahatan komputer terjadi maka pihak pengelola sistem akan melakukan tahapan penanganan kasus (incident handling). Proses yang sering melibatkan tim yang disebut CERT (Computer Emergency Response Team). Untuk itu mendukung pekerjaan itu dibutuhkan perangkat Manajemen Kasus Forensik yang dapat membantu penegak hukum dalam melakukan tugas forensic dengan cara melakukan dokumentasi serta menarik kesimpulan secara sistematis dan logis, maka dikembangkan suatu solusi Sistem Manajemen Kasus Forensik. Sistem yang dikembangkan ini dibuat merupakan pengembangan dari SAFFA.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan forensik komputer adalah untuk mengamankan dan menganalisis bukti digital dan untuk mengetahui manajemen kasus forensic dalam mengambil bukti-bukti digital agar tidak terkontaminasi pada saat data di ambil.

Manfaatnya adalah untuk memudahkan para ahli komputer forensik untuk menarik kesimpulan secara sistemastis dan logis.

DASAR TEORI

Definisi forensik komputer menurut Noblett adalah proses mengambil, menjaga, mengembalikan, dan menyajikan data yang telah diproses secara elektronik dan disimpan di media komputer. Tujuan forensik komputer adalah untuk mengamankan dan menganalisis bukti digital. McKemmish mendefinisikan forensik computer adalah proses mengidentifikasi, menjaga, menganalisa, dan menyajikan bukti digital (digital evidence) dalam tata cara yang diterima secara hukum. Kedua definisi tersebut berprioritas pada pemulihan (recovery) dan analisis data.

Kejahatan komputer secara luas dapat didefinisikan sebagai kegiatan kriminal yang meliputi infrastruktur teknologi informasi, termasuk akses tak berhak (unauthorized access), intersepsi ilegal, gangguan data termasuk pengaksesan data secara ilegal yang bersifat merusak, penghapusan data, kerusakan data, perubahan data atau penyembunyian data pada komputer, interferensi sistem, penyalahgunaan device, pemalsuan (pencurian ID), serta penipuan secara elektronik.

Menghadapi kejahatan dengan kompleksitas yang tinggi ini membutuhkan waktu yang lama dan teknik yang khusus agar dapat membawanya ke pengadilan. Analisis forensik merupakan suatu langkah penting dalam penanganan kejahatan komputer. Terutama ketika ingin membawanya menjadi suatu kasus di pengadilan. Komputer dan datanya sebagai barang bukti tidak dapat ditangani tanpa suatu pertimbangan dan aturan yang ketat. Berikut tahapan metoda pengelolaan barang bukti yang sering melibatkan tim yang disebut CERT (Computer Emergency Response Team)

1. Identifikasi : mendeteksi permasalahan atau serangan

2. Koordinasi : memperkirakan kerusakan yang terjadi

3. Mitigasi : mengendalikan kerusakan

4. Investigasi : memeriksa kerusakan

5. Edukasi : mempelajari kasus yang terjadi untuk perbaikan sistem

Dalam menindak-lanjuti kasus kejahatan komputer, selain masalah pengumpulan dan menyajikan bukti-bukti yang diperlukan penyidik, terdapat juga permasalahan lain yaitu dokumentasi hasil uji forensik komputer. Hal-hal yang didokumentasikan ini adalah segala hal yang berhubungan dengan kejahatan termasuk bagaimana proses penanganan barang bukti tersebut.

Dokumentasi yang baik, dan tersusun dalam metode pemrosesan yang diterapkan secara konsisten, bertindak sebagai pengingat bagi spesialis komputer dan dapat menjadi kunci penting dalam kesuksesan atau kegagalan suatu persidangan kejahatan komputer. Dokumentasi itu harus lengkap, ditail, akurat, dan komprehensif. Tanpa kemampuan untuk rekonstruksi secara akurat terhadap apa yang telah terjadi, bukti penting dapat dipertanyakan. Langkah-langkah analisis dalam dokumentasi harus sesuai dengan pedoman-pedoman yang dipergunakan secara nasional maupun internasional.

Langkanya SDM penegak hukum untuk bidang forensik, menjadikan tahapan forensik dan dokumentasinya menjadi beban berat bagi para petugas dan penyidik. Sehingga dibutuhkan suatu sistem manajemen kasus forensik yang akan meringankan kerja petugas untuk melakukan tahapan-tahapan forensik yang benar, menghasilkan laporan forensik yang merunut bukti-bukti tersebut secara logis, dan membantu menarik kesimpulan dan menyajikannya sebagai suatu bukti di pengadilan.

Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, penegak hukum dalam melakukan analisis forensik melakukan dokumentasi serta menarik kesimpulan secara sistematis dan logis, maka dikembangkan suatu solusi Sistem Manajemen Kasus Forensik. Sistem yang dikembangkan ini dibuat merupakan pengembangan dari SAFFA-NG.

SAFFA-NG merupakan pengembangan lebih lanjut dan perubahan secara mendasar arsitektur SAFFA dengan menggunakan komponen Open Source untuk menggantikan komponen proprietary yang tadinya digunakan SAFFA. Hanya konsep dan pendekatan SAFFA saja yang tetap masih digunakan. SAFFA-NG ini merupakan kerjasama riset antara Universitas Gunadarma, peneliti RVS Arbeitsgrupe – Bielefeld University, dan Andreas Vangerow (P3 Consulting GmbH), dengan masukan dari Kepolisian Negara bagian Niedersachsen (LKA Niedersachsen) serta kerja sama dengan badan pemerintahan Indonesia seperti Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), dan Kepolisian Indonesia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

SAFFA merupakan software pertama yang tersedia secara bebas yang digunakan untuk sistem pengelolaan bukti digital dan pengelolaan data forensik. Memang telah ada beberapa perangkat lunak forensik seperti :

• Encase [http://www.guidancesoftware.com/]

• X-Ways [http://www.x-ways.net]

• Autopsy [http://www.sleuthkit.org/autopsy/]

• PyFLAG [http://www.pyflag.net/]

• TimeCoronerToolkit [http://www.porcupine.org/forensics/tct.html]

Tetapi perangkat lunak tersebut berdiri sendiri dan relatif merupakan forensik aras bawah, yang belum mendukung ke pengambilan runutan kesimpulan. SAFFA-NG dapat memanfaatkan keluaran dari perangkat lunak aras bawah tersebut, sebagai masukan dari pengolahanan bukti digital. Sehingga SAFFA-NG dapat merangkum hasil perolehan dari berbagai perangkat bantu tersebut. SAFFA-NG ini menggunakan berbagai komponen perangkat lunak Open Source yaitu :

• GNU/Linux

• Tomcat Server, sebagai server untuk aplikasi Saffa JSP

• Database XML

• OpenOffice sebagai converter berbagai document yang dijalankan dalam modus server

Perangkat lunak yang hampir mirip dengan fungsi SAFFA ini adalah Open Computer Forensic Architecture dari kepolisian Belanda [http://ocfa.sourceforge.net]. Tetapi OSCA tersebut lebih pada program untuk membangun framework server yang akan digunakan untuk melakukan pekerjaan forensik, bukan memberikan panduan tahapan forensik seperti halnya SAFFA. Dari sis User Interface, SAFFA memiliki pendekatan lebih ke arah pengguna, jadi pengguna lebih dilibatkan dalam menentukan User Interface. Untuk penggunaan di Indoensia, tim pengembang SAFFA banyak mendapat masukan dari pihak KPK, serta dicobakan juga di Kepolisian Republik Indonesia.

Pada dasarnya pengguna sistem ini akan terbagi menjadi 3 jenis aktor yaitu,

• Petugas forensik, pada dasarnya petugas ini yang melakukan pencarian bukti-bukti digital pada perangkat yang digunakan sebagai bukti

• Penyidik, yang melakukan penyidikan dengan menggunakan data hasil forensik. Penyidik akan menganalisis kasus dari bukti forensik, secara logis dan sistematis dengan bantuan SAFFA-NG. Dalam penyidikan, dapat saja penyidik menemukan suatu bukti baru yang akan diberikan kepada petugas forensik.

• Jaksa/pembela, memperoleh keluaran berupa laporan forensik untuk digunakan di pengadilan.

SAFFA mendokumentasikan hasil analisis uji forensik komputer dengan menggunakan aliran kerja yang terdiri dari tahapan-tahapan yang sesuai dengan bakuan kerja forensik. Pada tiap tahapan petugas mengisikan formulir yang berbeda. Pada formulir tersebut informasi dari hasil analisis dapat disimpan dan jika analisis tersebut dibuka lagi penyelidik dapat memprosesnya lebih lanjut tetapi tanpa merusak informasi pada analsis sebelumnya. Semua text field diperuntukkan bagi pertanyaan atau point tertentu yang berhubungan dengan analisis forensik dan sesuai dengan pedoman/guideline yang digunakan. Point-point tersebut diistilahkan sebagai index SAFFA. SAFFA terdiri dari 5 Index dan beberapa subindex.

Sedikit berbeda dengan sistem database atau workflow, maka SAFFA ini harus memiliki beberapa fitur di dalam sistem database yang digunakan sebagai Digital Evidence Bag. Fitur tersebut adalah :

• Mendukung enkripsi

• Mendukung versioning

• Mendukung kontrol integritas

 

KESIMPULAN

Menurut saya keberadaan ilmu komputer forensik ini sangat dibutuhkan saat sekarang karena banyaknya kejahatan-kejahatan berbasis komputer/digital yang tidak dapat dibuktikan secara nyata. Untuk itu mendukung mengungkap bukti-bukti kejahatan digital dibutuhkan perangkat Manajemen Kasus Forensik yang dapat membantu penegak hukum dalam melakukan tugas forensic dengan cara melakukan analisis forensik serta menarik kesimpulan secara sistematis dan logis, maka dikembangkan suatu solusi Sistem Manajemen Kasus Forensik. Sistem yang dikembangkan ini dibuat merupakan pengembangan dari SAFFA.

Dengan menggunakan SAFFA-NG maka penyidik dan penegak hukum dapat melakukan analisis forensik secara lebih efisien, terarah, serta mengikuti suatu panduan yang formal. Juga memungkinkan adanya pertukaran informasi antar institusi investigasi internasional. Pengembangan sistem ini juga bertujuan untuk menghasilkan sebuah laporan hasil analisis uji forensik komputer dalam bahasa yang berbeda-beda agar dapat digunakan oleh berbagai institusi investigasi internasional.

https://www.binadarma.ac.id  

Dosen : Suryayusra, M.Kom

 

Rabu, 08 Juni 2022

Tutorial Autopsy

 Autopsy adalah sebuah antarmuka grafis untuk tool-tool didalam sleuth kit, yang memudahkan pengguna dalam melakukan investigasi. Mereka dapat menganalisis disk dan file system windows dan unix (NTFS, FAT, UFS1/2, EXT2/3). Autopsy menyediakan fungsi manajemen kasus, integritas gambar, pencarian kata kunci, dan operasi lainnya. Autopsy menggunakan perl untuk menjalankan program-program sleuth kit dan mengubah hasilnya ke HTML, oleh karena itu pengguna autopsy membutuhkan web client untuk mengakses fungsi-fungsinya.

Jika sudah mendownload aplikasi autopsy maka klik kanan pada aplikasi autopsy kemudian open,maka akan muncul gambar seperti ini



Tunggu beberapa saat sampai tampilan muncul seperti di bawah ini. Jika ingin membuat kasus baru maka pilih create new case 


Kemudian tampilannya akan seperti ini, maka buatlah kasus baru yang kalian inginkan


Penjelasan tentang setiap fitur yang ada di autopsy 

Data Sources Pada Fitur Ini Kita Dapat Melihat Semua File Maupun Folder Pada Drive Yang Kita Akan Analisis

View Yaitu Untuk Menampilkan Tipe File,File Yang Telah Di Hapus Dan Ukuran Dari File Tersebut. Pada Fitur View Ada 2 Yaitu By Extention Dan By Mime Type

a) Tampilan  “ By Extention ”

Di dalam By Extention dan By Mime Type ini ada beberapa fitur yang dapat digunakan yaitu :
1.“By Extention  Image ”  Yaitu Menampilkan Semua File Image  Atau Gambar  Pada Data  Atau Drive Yang Akan Di Analisis 
2.“By Extention Video “ Yaitu Menampilkan Semua File Video Pada Data Atau Drive Yang Akan Dianalisis
3.“ By Extention  Audio “ Yaitu Menampilkan Semua File Audio Pada Data Atau Drive Yang Akan Di Analisis
4.“ By Extention Archives  “ Yaitu Menamp[Ilkan Semua File Arsip Pada Data Atau Drive Yang Akan Di Analisis .
5.“ By Extention  Document “ Yaitu Menampilkan  Semua File Dokumen  < Html,Office,Pdf,File Txt,File Rtf>   Pada Data Atau Drive Yang Akan Di Analsis

b)Tampilan By Mime Type

1.“By Mime Type Aplication “ Yaitu Menampilkan Semua Aplikasi Pada Drive Atau Data Yang Akan Di Analisis Dengan Bentuk Folder.
2."By Mime Type Audio “ , Yaitu Menampilkan Semua File Audio Pada Drive Atau Data Yang Akan Di Analisis.
3.“ By Mime Type Image “ , Yaitu Menampilkan Semua File Gambar Pda Drive Atau Data Yang Akan Di Analisis , Tetapi Dalam Bentuk Folder.
4.“ By Mime Type Text “ , Yaitu Menampilkan File-File Text Berupa File Log,Xml,Dll.
5.“ By Mime Type  Videos “ , Yaitu Menampilkan Semua File Video Dalam Bentuk Folder.

Pada Fitur View Juga Terdapat Fitur “Deleted File” , Yaitu Menampilkan Semua Data Atau File Yang Telah Dihapus Sebelumnya , Ada Dua Opsi Yaitu “ File System Dan All”

1.File System , Yaitu Menampilkan Apa Apa Saja File Atau Data Yang Telah Di Hapus Pada Directory System Atau File System
2.All , Yaitu Menampilkan Semua Data Yang Telah Di Hapus Tanpa Trerkecuali

Pada Fitur “ View “ Juga Terdapat Fitur File Size , Yaitu Menbampilkan Sesuai Dengan Ukuran File Yang Akan Di Cari / Di Analisis

1. Mb 50 – 200 Mb , Yaitu Menampilkan File Dengan Ukuran 50mb – 200mb
2.Mb 200 – 1 Gb , Yaitu Menampilkan File Dengan Ukuran 200 Mb – 1 Gb
3.1 Gb -  0 ,  Yaitu Menampilkan Semua File Diatas 1Gb

Result Yaitu Menampilkan Extarctin Conten , Keyword Hits , Hashset Hits , Email , Konten Menarik Serta Akun Pada Directory Yand Di Analis


1.Extractin Conten Yaitu Meanmpilkan  File Exit Meta data 
2.Keyword Hits , Yaitu Menampilkan Kata Kunci Menarik Atau Yang Sering Di Gunakan Pada File , Termasuk Email Adress
3.Hashset Hits , Yaitu Meanmpilkan Hashset Terpopuler Seperti Email Message , Interesting Item , Dan Akun

Add Data Source , Berfungsi Menambahkan Data Atau Analisis Baru Entah Itu Berupa Local Disk, Disk Image, File Log, Maupun Unallocated Image File


View Images And Video Yaitu Menampilkan Secara Langsung File Gambar Dan Video Yang Ada Pada Data Yang Akan Di Analisis


Timeline Yaitu Analisis Garis Waktu Yang Berguna Untuk Berbagai Jenis Investigasi Dan Sering Di Gunakan Untuk Menjawab Pertanyaan Tentang Kapan Computer Di Gunakan Atau Kejadian Apa Yang Terjadi Sebelum Atau Sesudah Peristiwa Tertentu.


General Report Akan Menampilkan Laporan Umum Seperti File Html, Fille Excel, File Text, Penambahan Hashset, Google Eart, Stik, Tsk, Body File.


Close Case Yaitu Menutup Atau Keluar Dari Kasus.




Dosen : Suryayusra, M.Kom

Tutorial Helix

Helix adalah system operasi berbasis Linux yang dikembangkan dari distro linux Ubuntu Pengembang Helix adalah e-Fense Inc., sebagai system operasi khusus untuk kegiatan forensik. Helix dibundel dengan banyak tool-tool forensik baik yang sifatnya open source atau pun closed source. Helix hadir dalam dua versi, versi gratis dan versi berbayar yang dua-duanya dikembangkan oleh e-Fense Inc.

Bukalah drive Helix yang sudah kalian download kemudian doubleclick Helix.exe sehingga tampil jendela berikut:


Pilih tombol Accept kemudian akan muncul halaman berikut ini.

1.Preview System Information

Pilihan ini akan memberi Anda informasi dasar sistem. Ini termasuk Operasi versi sistem, informasi jaringan, informasi pemilik, dan ringkasan drive di sistem. Selain itu, ada halaman kedua yang akan menampilkan daftar proses yang sedang berjalan.

2.Acquire a “live” image of a Windows System using dd

Opsi ini akan memungkinkan penyelidik untuk membuat salinan hard drive, floppy disk, atau memori, dan menyimpannya di media lokal yang dapat dipindahkan, atau melalui jaringan.

3.Incident Response tools for Windows Systems

Opsi ini menyediakan akses ke 20 alat, yang semuanya dapat dijalankan langsung dari CDROM. Satu kali anda klik icon tersebut, akan muncul segitiga kecil, disamping icon tersebut. Mengklik segitiga kecil ini akan memberikan akses ke halaman alat lainnya.

4.Browse contents of the CD-ROM and Host OS

Ini adalah file sederhana yang akan memberi penyelidik informasi tentang yang dipilih mengajukan. Ini akan menampilkan nama file, tanggal dibuat, diakses dan dimodifikasi, Atribut, CRC, MD5 dan ukuran file. Karena sifat sistem operasi windows, pertama kali Anda memilih file; dia akan menampilkan tanggal akses akses terakhir. Jika Anda memilih file yang sama lagi, itu akan menampilkan tanggal dan waktu akses sebelumnya. Ini adalah fitur dari sistem operasi windows, dan dapat tidak dicegah. Ini adalah salah satu masalah dengan memeriksa sistem langsung – penyelidik tindakan dapat memodifikasi sistem.

5.Scan for Pictures from a live system

Alat ini akan memungkinkan penyelidik dengan cepat memindai sistem untuk melihat apakah ada tersangka gambar grafis pada sistem tersangka. Banyak format grafik yang berbeda dikenali, dan ditampilkan sebagai thumbnail.

6.Investigative Notes

Alat ini akan memungkinkan penyelidik untuk dengan cepat menambahkan beberapa komentar ke log transaksi yang sedang dibuat saat GUI Helix sedang berjalan. Catatan ditambahkan ke log transaksi, dan kemudian disimpan dalam file PDF saat pengguna keluar dari GUI Helix3.

 https://www.binadarma.ac.id

 Dosen : Suryayusra, M.Kom


Definisi Komputer Forensik

Digital Forensik atau bisa disebut dengan Ilmu Forensik Digital, adalah salah satu cabang ilmu forensik, yang memfokuskan pada penyelidikan ...